Pria Yahudi ini pernah Bertetangga dengan Hitler

Pria Yahudi ini pernah Bertetangga dengan Hitler – Adolf Hitler adalah salah satu tokoh yang tidak mungkin bisa dilupakan oleh peradaban manusia saat ini, sebagaimana kita ketahui bersama hitler lah yang menjadi dalang terhadap pembantaian ras afrika dan kaum yahudi pada masa perang dunia kedua.

Karena sangat bencinya dengan kaum yahudi dia dengan teganya menyerukan Holocaust atau suatu program pembunuhan secara sistematis terhadap yahudi, komunis atau orang – orang yang dianggap sebagai musuh oleh Hitler.

Tetapi di balik itu semua ada sebuah cerita menarik yaitu Hitler sebenarnya pernah bertetangga dengan sebuah keluarga yahudi. Berikut ini adalah kisah lengkapnya yang diceritakan oleh Edgar Feuchtwanger yang saat ini telah berusia 88 tahun.

Pada saat itu sekitar awal tahun 1930-an Edgar Feuchtwanger yang saat itu baru berumur delapan tahun, keluar untuk berjalan-jalan dengan pengasuhnya, teata[i ketika sampai tepat di samping rumahnya dia melihat pemimpin Nazi, mengenakan jas lambang berikat dan topi Trilby, keluar dari apartemen kedua-lantai yang besar.

Dia menatap lurus ke arahku, saya tidak berpikir dia tersenyum, kenang Feuchtwanger. Beberapa orang berhenti dan berteriak “Heil Hitler”. Sebagai tanggapan, ia mengangkat topinya, “seperti politisi demokratis mungkin melakukan” sebelum mengemudi di sebuah mobil menunggu.

Tentu saja aku tahu siapa dia, bahkan sebagai seorang anak kecil, kata Feuchtwanger dalam bahasa Inggris lambat tapi jelas. Dia memang mendengar bahwa pemimpin Hitler sang pemimpin Nazi memang tinggal di samping apartemennya di Prinzregentenplatz 16. Tetapi walau begitu dia tidak pernah membayangkan akan bertemu secara langsung dan saling bertatapan mata. Membayangkan Hitler bagi seorang anak kecil seperti Feuchtwanger adalah sebuah hal yang menakutkan dan dia sendiri tidak menyangka akan bertemu langsung dengan hitler bahkan tinggal dekat dengan rumahnya.

Meskipun hanya lima tahun ketika Fuehrer pindah ke daerah rumahnya, Feuchtwanger ingat ibunya berkomentar bahwa “kita tidak punya banyak susu saat ini, karena tukang susu yang biasa mengantar kerumahnya telah disuruh untuk meninggalkan seluruh botol susu di kediaman Hitler.

Apartemen Prinzregentenplatz 16 saat ini

Lewat di depan apartemen mewah Hitler di Prinzregentenplatz 16 menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari anak muda diderah tersebut, saya sendiri pergi dan pulang sekolah selalu melewati apartemen tersebut. Saya ingat waktu itu sering berhenti untuk mengintip apakah ia bisa apakah pimpinan Nazi tersebut ada diapartemen tersebut. Pada satu kesempatan dia berani mengintip sampai ke pintu depan untuk melihat apakah Hitler ada didalam atau tidak.

Hitler akan datang ke Munich di akhir pekan. Anda bisa mengatakan dia berada di rumah karena mobilnya yang diparkir di luar,” kata Feuchtwanger. Kedatangannya ditandai oleh melengking suara ban dari iring-iringan tiga mobil yang membawa dia dan para pengawal pribadinya.

Hal-hal berbau Nazi memang sudah ditanamkan ke dalam diri kita di sekolah,” ia menjelaskan. Salah seorang guru telah mengajarkan siswa menggambar swastika besar dengan pensil pada halaman pertama buku latihan mereka. Pada halaman lain mereka harus menyusun daftar musuh Jerman yaitu Inggris, Rusia dan Amerika Serikat.

Pada pertengahan 1930-an, dengan semakin berkuasanya Nazi banyak keluarga Yahudi Jerman sadar bahwa keselamatan hidup mereka sedang berada dalam ancaman yang besar.

“Kami tahu bahwa Hitler berkuasa adalah bahaya bagi kita sebagai orang Yahudi,” kata Feuchtwanger, yang ayahnya adalah kakak, Lion Feuchtwanger, adalah seorang penulis drama terkenal anti-Nazi.

Saat pengambilan paksa orang yahudi dimulai kami melihat dan mendengar bahwa keluarga Yahudi lainnya telah dibawa secara paksa kesebuah tempat yang dirahasiakan, tapi anehnya tak seorang pun dari tentara nazi tersebut datang mengetuk pintu rumah keluarga Feuchtwangers.

Tapi keadaan tersebut tidak berlangsung lama, pada tanggal 10 November 1938 pagi-pagi Edgar Feuchtwanger yang telah berusia 14 tahun mendengar petugas dari Gestapo tiba di rumah keluarga mereka. Malam sebelumnya ia juga telah melihat gelombang pertama kekerasan Nazi terhadap kaum Yahudi di Jerman dimulai.

Feuchtwanger ingat menonton, ketakutan dan tak berdaya, karena ayahnya dibawa pergi. “Mereka tidak akan menganiaya dia,” katanya. “Ibu saya sangat berani.” Kemudian, Gestapo datang kembali dengan van dan kotak untuk merampas buku yang paling berharga di perpustakaan milik ayahnya yang luas. “Mereka menyebutnya, dalam bahasa Jerman, ‘membuat buku mengamankan’,” kata Feuchtwanger.

Itu adalah titik balik bagi saya dan keluarga. Dia tidak bisa lagi pergi ke sekolah dan menghabiskan hari meringkuk dengan ibunya dan kerabat dekat lainnya di rumah, tidak berani untuk pergi keluar. “Kami hanya merasa begitu tak berdaya – seorang gestavo bisa datang dan mengetuk pintu rumah kita kapan saja dan mereka tentu tidak segan – segan untuk membunuh.

Selama enam minggu kami sekeluarga menunggu berita tentang kabar ayah kami. Yang mereka tahu adalah bahwa ayah Edgar dan salah satu dari pamannya telah dibawa ke Dachau, kamp kerja paksa yang terkenal di tepi Munich. Ketika ayahnya dibebaskan ia tampak sangat kelelahan, sakit dan penuh bekas luka siksaan, tapi masih hidup.

Dia kemudian mengatakan kepada anaknya bahwa satu-satunya cara untuk bertahan di  kamp tersebut adalah selalu menuruti perintah Nazi. Begitu anda melakukan kesalahan pada pekerjaan, atau pingsan karena kekurangan makanan, ia mengatakan kepada anaknya “saat itulah anda akan mati”.

Pada saat ia kembali kepada mereka, keluarga sepakat bahwa mereka harus meninggalkan Jerman. Dengan bantuan dari kerabat yang sudah di luar negeri mereka memperoleh visa untuk melakukan perjalanan ke Inggris.

Akhirnya pada bulan Februari 1939 kami sekeluarga bisa pergi meninggalkan jerman dengan menaiki kereta api, tujuan kami adalah Inggris.

Edgar Feuchtwanger

 

  • Born 28 September 1924 in Munich
  • Arrives in England in 1939, and enters Cambridge University five years later, to read History
  • Becomes a history lecturer at University of Southampton in 1959
  • Marries Primrose Mary Essame in 1962, with whom he has three children
  • Publishes numerous books, including works on Disraeli, Gladstone and Bismarck – and From Weimar to Hitler: Germany, 1918-33
  • Lives outside Winchester in southern England
Facebook Comments

Artikel Lainnya

Salemba Mencekam mobil polisi terbakar Demo penolakan kenaikan BBM yang diadakan di kawasan sekitar salemba kian mencekam, massa yang terdiri dari 2 kampus yaitu maha...
Download Internet Explorer Terbaru Hanya dengan mendownload Internet Explorer kita bisa memenangkan paket liburan ke Singapura untuk 2 orang, sangat menarik sekali bukan. Jadi langsung ...
Anak – Anak Gaza Kehilangan Ibu Inilah awal kisah yang memilukan dari anak - anak Palestina. Jumlah anak - anak Gaza diperkirakan lebih dari separuh total 1,4 juta jiwa warga Palesti...
Daftar Harga Paket Internet Smartfren November 201... Daftar Harga Paket Internet Smartfren November 2012 - Sekedar info bagi para seluruh pengguna paket internet smartfren bahwa mulai tanggal 1 november ...
Profile Hamzah Izzulhaq Siapa Hamzah Izzulhaq ?? Itulah mungkin pertanyaan yang muncul di benak kita semua saat mendengar nama Hamzah Izzulhaq. Dalam artikel ini saya akan se...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*